Pelayanan Publik

Dari Suroboyo Bus ke LRT: Masa Depan Transportasi Surabaya

M. Roehman Zainur Riedho · 3 September 2026

Surabaya tidak pernah kekurangan gagasan brilian. Sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia, ibukota Jawa Timur ini kerap menjadi etalase inovasi kebijakan publik di level pemerintah daerah. Salah satu yang paling menyita perhatian publik nasional maupun internasional adalah kebijakan Suroboyo Bus, di mana warga dapat membayar tiket perjalanan menggunakan botol plastik bekas. Inovasi ini luar biasa; ia menyelesaikan dua masalah sekaligus: menyediakan transportasi umum dan mengatasi tumpukan sampah. Namun, ketika kita melangkah keluar dari ruang konferensi pers dan turun ke jalanan yang terik, sebuah pertanyaan kritis muncul: apakah inovasi-inovasi ini benar-benar berhasil mengubah perilaku mobilitas warga dan mengurai kemacetan?

Suroboyo Bus/Foto: Istimewa (dok.Instagram @suroboyobus)

Jawabannya, sayangnya, masih jauh dari harapan. Surabaya saat ini sedang mengalami paradoks mobilitas. Di satu sisi, pemerintah kota terus menambahkan armada melalui skema Trans Semanggi Suroboyo dan feeder Wira-Wiri Suroboyo yang menjangkau gang-gang sempit. Di sisi lain, jalanan utama seperti Raya Darmo, Ahmad Yani, atau A. Yani tetap menjadi tempat bertemunya lautan kendaraan pribadi setiap jam sibuk. Kualitas udara Surabaya juga kerap masuk dalam kategori tidak sehat, sebuah indikator nyata bahwa emisi dari kendaraan pribadi masih mendominasi lanskap kota.

Masalah mendasar dari kebijakan transportasi Surabaya saat ini bukanlah pada ketiadaan armada, melainkan pada lemahnya integrasi antarmoda dan pengabaian terhadap pengalaman pengguna (user experience). Kehadiran Wira-Wiri sebagai feeder memang sebuah terobosan untuk mengatasi masalah first-mile dan last-mile. Namun, dalam praktiknya, sering terjadi tumpang tindih rute dengan angkutan kota (angkot) konvensional yang tidak terkelola dengan baik. Selain itu, ketidakpastian waktu tunggu (headway) membuat komuter merasa tidak memiliki kendali atas waktu mereka. Bagi masyarakat urban yang serba cepat, kepastian adalah mata uang yang paling berharga. Ketika transportasi umum tidak bisa diandalkan ketepatwaktuannya, kendaraan pribadi akan selalu menjadi pilihan rasional.

Selain itu, kebijakan transportasi tidak bisa dilepaskan dari infrastruktur pejalan kaki. Surabaya pernah gencar mengampanyekan kota ramah sepeda dan pejalan kaki. Namun, realita trotoar di Surabaya masih sangat memprihatinkan. Banyak trotoar yang terputus-putus, tidak rata, atau dialihfungsikan oleh pedagang kaki lima dan parkir liar. Memaksa warga untuk berjalan kaki menuju halte bus di bawah terik matahari Surabaya tanpa naungan pohon yang memadai adalah sebuah kebijakan yang tidak berempati pada kondisi fisik warga. Transportasi berkelanjutan harus dimulai dari langkah kaki pertama warga keluar dari pagar rumah mereka, bukan sekadar dari halte ke halte.

Di tengah perdebatan ini, penantian akan transportasi massal berbasis rel seperti Light Rail Transit (LRT) terasa seperti oase yang tak kunjung tiba. Proyek LRT Surabaya telah lama wacana dan terjebak dalam birokrasi serta kajian yang berlarut-larut. Padahal, kota-kota besar di dunia telah membuktikan bahwa hanya transportasi massal berkapasitas tinggi yang mampu menjadi tulang punggung mobilitas dan secara signifikan memangkas emisi karbon. Penundaan ini adalah sebuah kemunduran strategis, terutama ketika isu perubahan iklim dan polusi udara sudah berada di tahap darurat.

Sudah saatnya Pemerintah Kota Surabaya melakukan pergeseran paradigma. Kebijakan transportasi harus berhenti berorientasi pada pemindahan kendaraan (moving vehicles) dan mulai berorientasi pada pemindahan manusia (moving people). Surabaya perlu segera menerapkan konsep Transit Oriented Development (TOD) secara ketat, di mana pusat-pusat aktivitas ekonomi dan hunian padat dikonsentrasikan di sekitar simpul-simpul transit utama. Integrasi fisik, jadwal, dan sistem pembayaran antar-moda (bus, feeder, hingga mikro-mobilitas seperti bike-sharing) harus dirancang dalam satu ekosistem yang mulus (seamless).

Surabaya memiliki modal politik dan kreativitas yang luar biasa. Namun, kota ini harus tumbuh melampaui inovasi yang bersifat kosmetik atau sekadar gimmick pemasaran. Warga Surabaya tidak membutuhkan lagi tiket dari sampah plastik untuk merasa bangga; mereka membutuhkan sistem transportasi yang membebaskan mereka dari kemacetan, memberikan kenyamanan, dan menjamin mereka tiba di rumah dengan selamat dan tepat waktu. Hanya dengan integrasi yang nyata dan berpusat pada manusia, wajah transportasi Surabaya akan benar-benar berubah.

Tentang Penulis

M. Roehman Zainur Riedho

Policy Governexus Indonesia

Pemerhati Kota

Publikasi opini tidak berarti Policy Governexus Indonesia mendukung seluruh pandangan penulis. Tanggung jawab substantif berada pada penulis.

Eksplorasi konten lain dari Governexus Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca